Latest Article
MEA: Say Good Bye: Buruh (Robot Modern)

Badan PBB untuk Pembangunan (UNDP) kembali merilis Indeks Pembangunan Manusia (IPM) negara-negara di dunia pada tanggal 14 Desember 2015.

Indeks yang pada 1990 dikembangkan oleh pemenang nobel India Amartya Sen dan seorang ekonom Pakistan Mahbub ul ini diukur berdasar 3 dimensi yaitu:  kualitas kesehatan dan harapan hidup, kualitas pendidikan dan akses terhadap ilmu pengetahuan, dan standar kehidupan layak.  Bagaimana hasil IPM 2015?

Norwegia, Australia, Swiss masih menjadi 3 jawara tertinggi di dunia sama dengan tahun lalu. Dengan skor 0.684 bersama Gabon, Indonesia menempati ranking 110-111 dari 188 negara. Di saat MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) hadir, saat ini kita masih tertinggal dibanding Singapura (11), Brunei (31), Malaysia (62), Thailand (93).

 

Saat ini ada 195 Negara dengan jumlah penduduk (populasi) sebanyak 7.256.490.011 jiwa (menurut CIA World Factbook Tahun 2015). Indonesia menduduki urutan keempat dengan Jumlah Penduduk-nya 255.993.674 jiwa (sekitar 255 Juta jiwa)  atau sekitar 3,5% dari keseluruhan jumlah Penduduk Dunia. Di bawah RRC (18,8%), India (17,2%), Amerika Serikat (4,4%).

Jika Indonesia begitu baiknya secara ranking  jumlah penduduk bahkan menurut prediksi para ahli ekonomi dunia Indonesia akan mencapai puncak bonus Demografi nya di tahun 2030 (dengan proporsi 100 penduduk usia produktif, dibanding 44 usia non produktif), bukankah lebih bijak dan menyenangkan jika kita PERSIAPkan diri untuk menyambut PELUANG Emas ini? Inilah saatnya ibarat kita di bangku sekolah, tahun 2016 adalah TAHUN UJIAN kita. Kita naik kelas atau tinggal kelas. Kita menang atau kalah dalam persaingan MEA.

Beberapa hal yang menarik untuk dipersiapkan adalah:

1.    Perlunya kita makin menghargai PENDIDIKAN berbasis spesialisasi, bukan generalisasi. Tinggalkan pemahaman bahwa SMU (Sekolah Menengah Umum) pasti lebih baik dibanding SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Tengok saja, jika kita melihat industri automotif yang ada di Indonesia, bukankan begitu banyak ekspatriat dari negara Jepang yang dinilai tinggi justru karena spesialisasinya, bukan karena kemampuan MANAJERIAL nya.

2.    Bagi dunia INDUSTRI padat karya, saatnya menerapkan jenjang karirdan sistem promosi yang tidak hanya berdasar JABATAN STRUKTURAL. Seorang karyawan tidak hanya dihargai karena kemampuan manajerialnya, tapi juga bisa karena spesialisasi kemampuannya. Bukankah dengan sistem ini harusnya makin banyak para karyawan dari tingkat lini produksi yang makin terpacu meningkatkan produktivitasnya?

1 Mei 2016 peringatan hari buruh internasional akan jatuh pada hari Minggu. Yuk ramai-ramai kita serukan SALAM PERUBAHAN POSITIF dari penghujung 2015 ini. Setiap 1 Mei, kenapa harus diisi dengan DEMO Buruh. Adakah cara lain untuk memperingatinya?Saya pribadi tidak pernah setuju dengan istilah BURUH. Bagi saya ini hanyalah produk era Revolusi Industri sejak James Watt menciptakan mesin uap di tahun 1765. Ini bukan lagi zaman Industri. Saat ini zamannya Globalisasi 3.0 dimana kekuatan sebuah negara tidak lagi dibangun oleh industri-industri kuat di dalamnya, melainkan oleh INDIVIDU-INDIVIDU yang berkualitas.

Saya yakin para BURUH makin tidak mudah disetir oleh pihak-pihak tertentu yang sengaja mencari keuntungan pribadi. Say Good byeuntuk kata BURUH. Karena kata KARYAWAN (orang yang berkarya) lebih tepat menggantikannya.

Satukan energi positif Tripartit (Perwakilan Pekerja, Pengusaha dan Pemerintah) untuk membawa dunia industri Indonesia makin berkelas.

3.    Bagi pemilik usaha, di saat era persaingan makin mencemaskan, inilah saatnya jiwa ENTREPRENEURSHIP kita diuji.  Sangat mudah untuk mengurangi karyawan jika terjadi penurunan order, atau sebaliknya meningkatkan rekrutmen saat order naik. Tentunya kita setuju bahwa dunia usaha bukan hanya bicara untung rugi semata. Kita yakin, jika Perusahaan dibangun dengan pondasi budaya dan saling kepercayaan yang tinggi antara karyawan dan pengusaha, maka makin hebatlah bisnisnya. Bukankah ini saatnya bagi para Pimpinan Perusahaan untuk menggali dan potensi terbaik dari para KARYAWANnya. Jangan pernah ciptakan budaya perusahaan yang membentuk ROBOT-ROBOT Modern. Ciptakan budaya yang membentuk insan-insan kreatif dan bernilai. Jalankan usaha, karena kita mau meninggalkan LEGACY (warisan) bernilai dari usaha kita. Sangatlah menarik jika kita belajar dari Larry Pagedan Sergey Brin. Sejak mahasiswa mereka setia dengan misi mereka membantu banyak orang melalui mesin pencari ‘Search Engine’. Akhirnya jika kita melihat begitu tangguhnya bisnis  Google  hari ini, kita tentu tidak melupakan bagaimana nilai-nilai Sang Pendiri.  

4.    Saatnya Lembaga Sertifikasi Profesi bersama kalangan akademisi dan industri/usaha menyelesaikan PR yang tertinggal. Bangun SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) yang berkiblat pada kondisi riil tenaga kerja dan kebutuhan industri/usaha di Indonesia. Karena dengan SKKNI yang berkualitas, maka tenaga kerja kita punya patokan pengembangan dan standar kompetensi yang terukur dan mampu bersaing di era MEA.

 

Indonesia pasti naik kelas. Tangkap peluang MEA ini, sebagai proses meningkatkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Indonesia.  Bagi kita inilah saatnya  tidak mengkritik dunia luar, sebaliknya memulai menaklukkan diri sendiri dan berpikir positif. Bantu pemikiran dan energi untuk Pemerintah kita, dan siapkan diri hadapi krisis. Selamat datang MEA.

Tag : tips, FUNtastic Career