Latest Article
Pesona Negeri Kita taklukkan Fenomena Angsa Hitam

Banyak dari kita tentunya melewati minggu-minggu ini dengan berlibur. Berbagai kenangan hadir. Pastinya banyak yang FUNtastic! Begitu juga apa yang kami alami.

Sudah menjadi kebiasaan bagi kami sekeluarga, selain menikmati tempat wisata salah satu tujuan utama adalah mempelajari budaya masyarakat setempat. Dan kunjungan kami terakhir ke 3 negara Asia: Vietnam, Jepang dan Malaysia, kami berkesimpulan" Saatnya Pesona Negeri Indonesia mampu menaklukkan Fenomena Angsa Hitam." Apa maksudnya?

Fenomena Angsa Hitam seperti yang dinyatakan Nassim Nicholas dalam bukunya”The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable”, menyatakan peristiwa yang sangat mustahil terjadi, dengan tiga karakteristiknya:

1.     Tidak dapat diramalkan.

2.     Memberikan dampak yang besar setelah itu terjadi.

3.   Namun setelah terjadi, kita akan merasa bahwa sebenarnya kejadian itu bukanlah sebuah kebetulan, dan mestinya dapat kita ramalkan.

Banyak kejadian-kejadian besar dunia yang dikategorikan sebagai Fenomena Angsa Hitam. Orang tidak mengakui atau mempercayainya, sampai hal itu benar-benar terjadi.

Dan ini adalah pertanyaan yang muncul dalam diri saya selama berwisata. "Mampukah pariwisata Indonesia bersaing di Asia?" Terkadang sambil bergurau dengan anak dan istri, karena membandingkan dengan kualitas pelayanan yang belum maksimal yang saat ini masih sering terjadi di sektor pariwisata Indonesia, timbul kegemasan sekaligus keyakinan "Harusnya Indonesia tidak kalah! Harusnya Indonesia bisa!". Betapa tidak fakta-fakta saat kami mengunjungi Belitung, mulai dari deretan Pulau Pasir, Lengkuas, Kepayang, Batu Berlayar, pantai Tanjung Tinggi, Penyabong serta Danau Kaulin kami merasakan ini tidak kalah (bahkan lebih indah) dari beberapa area langganan pariwisata di negara tetangga. Anda dapat menilai sendiri bagaimana pesona birunya air dan indahnya bebatuan di deretan pulau-pulau Belitung.


Namun itulah kecerdasan bangsa Vietnam, mereka mampu mengubah sungai di pusat kota Ho Chi Minh menjadi wisata kapal pesiar sambil menikmati lampu kota nya. Menjadikan War Museum dan Terowongan Cu Chi menjadi area wajib kunjungan (meskipun untuk menuju ke sana membutuhkan perjalanan yg cukup panjang dari pusat kota). Yang membuat kami kagum saat itu, saat saya bertanya ke Mr Tonny  (local tour guide Vietnam yang fasih bahasa Indonesia),"Mengapa Anda mau belajar bahasa Indonesia?" Jawabannya." Karena turis Indonesia belum banyak. Dan kami yakin, akan banyak."   Inilah orang-orang yang bersedia membayar harga untuk menyambut peluang.

'

Di salah satu hotel Malaysia tempat kami menginap, kami juga merasakan pelayanan yang sangat profesional. Keramahan dan kesigapan mereka dalam melayani tamunya. Sebaliknya kami masih mendapatkan di salah satu hotel berkelas di Indonesia, kamar masih belum dirapikan padahal ada permintaan tamu dan waktu sudah menunjukkan jam 1 siang. Belum pelayanan para petugas hotel yang terkadang lupa dengan bahasa universal "SENYUM".

Di Jepang hal yang paling menarik adalah berapapun besaran uang yang kita berikan untuk pembayaran, maka mereka tidak akan meminta kita mengganti dengan besaran yang lain. Mereka dengan senang akan memberikan uang kembaliannya (Pernah kami beberapa kali menggunakan  pecahan 10.000 Yen (setara Rp 1 juta), untuk membeli barang senilai bbrp ratus Yen). Kami bandingkan seringkali di Indonesia, mulai dari kasir toko, petugas loket tol, petugas loket parkir menanyakan ada tidak uang pecahan yang lain (lebih tidak menyulitkan mereka dalam pengembalian). Sudah menjadi rahasia umum bahwa pelayanan orang Jepang termasuk no 1 di dunia. Bahkan di setiap hotel, para petugas gerbang hotel tidak akan membalikkan badan sebelum rombongan kendaraan pariwisata lepas dari pandangan mereka. Dan mereka akan selalu siap melambaikan tangan jika ada tamu yang berbalik arah ke mereka.

Untuk memprediksi kesuksesan Pariwisata Indonesia kita dapat memulai dari PEMBENTUKAN POLA PIKIR "MINDSET" dan PERILAKU "ATTITUDE".  Pola pikir kebanggaan dan keyakinan begitu besarnya potensi bangsa ini. Percayakah kita bahwa Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dalam era 10-15 tahun ke depan? Percayakah kita bahwa pariwisata Indonesia tidak kalah dibanding negara lain? Percayakah kita bahwa harusnya masyarakat Indonesia memiliki budaya asli yang ramah tamah dan sanggup memberikan pelayanan yang terbaik? Karena tanpa adanya benih kepercayaan itu, maka makin sulitlah kita memprediksi kegemilangan Indonesia di masa depan. Sudah saatnya kita mampu mengalahkan fenomena Angsa Hitam itu, dengan bersatu padu mempersiapkan diri. Ini bukan hanya tugas dan peranan Pemerintah, atau para pemain sektor Pariwisata. Ini adalah panggung permainan untuk semua warga negara Indonesia mempersiapkan diri yang terbaik. Sebelum kita menjadi Tuan Rumah untuk bangsa lain, persiapkan diri kita menjadi Tuan Rumah untuk warga Indonesia dengan baik.

Kita dapat belajar dari Tiongkok saat menyiapkan diri sebagai tuan rumah Olimpiade 2008. Cina (khususnya Beijing) dikenal dengan polusi tinggi dan beberapa kebiasaan 'jorok' warganya yang tidak disukai turis asing. Selain perubahan mutu lingkungan dan pembangunan sarana fisik (3.700 toilet baru) dengan biaya 40 juta USD, mereka telah mempersiapkan diri untuk Tema Proyek Pembangunan Kultur (non fisik). Bahkan hal ini jauh dsiapkan sejak paruh kedua dekade 1990-an saat mereka mencalonkan diri sebagai tuan rumah. Sekitar 4.3 juta buku panduan etika dibagikan, berisikan hal-hal yang tidak boleh dilakukan seorang warga selama bertindak sebagai tuan rumah (misal: memakai piama di tempat umum, tidak memakai pakaian lebih dari tiga warna berbeda, larangan menanyakan 'delapan hal tabu' kepada orang asing.  Sangat jelas upaya pemerintah Tiongkok merespon pandangan global tentang mereka.


Sebagai warga Indonesia, harusnya kita pun dapat memulai mempersiapkan diri.

Beberapa tindakan praktis yang bisa kita mulai lakukan:

1. Selalu menjaga kebersihan, kerapihan fasilitas umum.

2. Ikut mengingatkan dan berani menegur setiap pelanggaran yang disengaja (contoh: merokok, membuang sampah, meludah sembarangan)

3. Belajar bahasa universal "SENYUM" dengan tulus.

4. Budaya antri (termasuk di jalan raya).

5. Bangga dengan pesona Bhinneka Tunggal Ika Indonesia (keanekaragaman budaya, suku, ras, agama).

6. Mengganti rute wisata luar negeri dengan wisata Indonesia (kita negara pemegang rekor jumlah pulau terbanyak di dunia).

7. Meningkatkan kemampuan bahasa asing (Khususnya bahasa Inggris).

Kitalah para Ambassador itu. Selamat bermain dan Welcome FUNtastic Indonesia!

Tag : FUNtastic Culture