Guru di dalam diri saya sangat bangga dengan pencapaian tim kita, kepemimpinan kita, dan kultur unik yang mendorong misi perusahaan, serta bagaimana kita dapat terus melahirkan pemimpin-pemimpin hebat dan profesional seperti Daniel Zhang.” ~Jack Ma.

10 September 2018 dunia dihebohkan dengan berita pengunduran diri Jack Ma. Sosok fenomenal yang dikenal dengan daya juangnya ini justru menunjuk Daniel Zhang  menggantikan dirinya sebagai pimpinan tertinggi Alibaba Group.

Bagi saya pribadi pengunduran diri Jack Ma tidak terlalu mengherankan. Namun ini juga sekaligus menambah kekaguman saya terhadap gaya kepemimpinan para Great Leader seperti Jack Ma.

Jadi apa bedanya Pemimpin Sukses dan Pemimpin Gagal?

  1. Pemimpin gagal akan selalu mencintai kursi jabatannya.

    Mereka selalu ingin dilihat ‘hebat’ di posisinya saat ini. Alih-alih menyiapkan penerusnya, mereka justru akan ketakutan jika ada anak buah atau anggota tim nya yang memiliki potensi dan kinerja lebih baik. “Bahaya! Aku akan segera tergantikan!” Saya teringat sebuah cerita unik dan inspiratif saat baru menjabat sebagai Kepala Divisi Corporate HRD & Management System di salah satu anak perusahaan Triputra Grup di tahun 2005. Saat itu ada seorang karyawan berprestasi dari bagian Finance yang menceritakan pengalamannya saat bekerja di perusahaan sebelumnya. Setiap Manajer baru akan mendapatkan ‘surat wasiat’ di hari pertamanya. Isinya sebuah pertanyaan, ”Kapan Anda akan ‘pensiun’ dari jabatan Anda hari ini?” Ternyata ini adalah ‘positive shock therapy’ untuk menyadarkan bahwa setiap pimpinan yang sukses harus siap untuk naik ke level lebih tinggi. Alih-alih kuatir kehilangan kursi jabatannya, seorang pemimpin sukses akan senang untuk mempersiapkan suksesornya.
  1. Pemimpin gagal akan selalu bangga dengan keberhasilan dirinya saat menjabat.

    Pernahkah Anda bertemu seseorang yang begitu antusiasnya menceritakan kehebatan prestasi masa lalunya di saat ia memimpin bagian/departemennya? Namun di sisi lain orang itu juga bercerita begitu parahnya kinerja bagiannya setelah ia digantikan orang lain. Hati-hati, karena Anda sedang berhadapan dengan seorang Pimpinan Gagal. Saya bersyukur pernah berkarya dan dididik dalam dua grup perusahaan (Astra dan Triputra) yang sangat menjunjung tinggi profesionalisme dan budaya kerja yang beretika. Salah satu my great mentor adalah Pak Teddy P Rachmat, founder Triputra Group dimana berdasarkan review Globe Asia terakhir (Agustus 2018) beliau menduduki orang terkaya no-7 di Indonesia.

    Saya teringat sebuah peristiwa saat awal Pak Teddy pensiun dari jabatannya sebagai CEO Astra International Group di tahun 1998. Kala itu seorang wartawan bertanya sambil memuji kehebatan cara beliau memimpin. Pak Teddy balik menjawab agar jangan pernah menyebut dirinya hebat sebagai pimpinan Astra. “Ini justru harus dibuktikan kalau setelah 5 tahun setelah saya tidak memimpin lagi di Astra dan grup ini makin sukses dan bertumbuh, barulah Anda boleh bilang saya hebat.”

    Alih-alih membanggakan prestasinya, seorang pemimpin sukses akan senang untuk mempersiapkan warisan ‘legacy’ yang berarti.

Selamat bagi Anda yang telah siap menjadi Leader yang bermain untuk menang dengan meninggalkan warisan berharga. Let’s Play for Legacy!