Di akhir tahun 2013, dunia dikejutkan sekaligus terinspirasi oleh sebuah video yang diunggah di You Tube berjudul “Stuck in Antartica: Special New Year Song”. Video itu berisi tarian dan nyanyian sekelompok penumpang kapal  Rusia, MV Akademik Shokalskiy di Antartika.  Menariknya 74 orang penumpang tersebut adalah para ilmuwan, turis, petualang, dan wartawan yang terjebak sejak Rabu 25 Desember 2013 diakibatkan lautan Antartika yang membeku. Sebenarnya bukan kali ini saja sebuah kapal terperangkap di Antartika. Namun peristiwa ini punya kekuatan dan keunikan sendiri jika kita kaitkan dengan filosofi sebuah brand.

Apa yang bisa kita pelajari dari kejadian tersebut? Dalam era kompetisi saat ini, pertarungan kompetisi antar brand begitu dahsyatnya. Dibanding seperempat abad lalu, mungkin perusahaan tidak terlalu sulit melakukan proses komunikasi brand nya, Dimana jumlah brand di pasar saat itu masih sedikit, artinya pilihan bagi konsumen juga terbatas tidak banyak alternatif. Hal yang sangat berbeda dengan pertarungan saat ini. Akhirnya banyak brand lama yang saat itu begitu mendominasi pasar dengan gagahnya, perlahan mulai tenggelam bahkan mati selamanya. Apa penyebabnya? Brand tersebut kehilangan energi.

Kembali pada kasus 74 penumpang di atas, di saat mungkin banyak orang akan mengalami stress yang luar biasa bahkan perlahan hilang semangat untuk bertahan hidup jika mengalami kejadian serupa, mereka justru menemukan cara tersendiri untuk tetap bertahan. Kuncinya adalah menciptakan energi ceria terus-menerus. Ada sebuah hasil penelitian dari Dr.Madan Kataria pendiri The Laughter Club yang menarik: “Laughing people are more creative people than serious people. They are more productive people.” Ini berarti dalam menghadapi tantangan apapun juga, sangatlah penting kita berusaha tetap ceria yang akhirnya justru mengembangkan kreativitas kita dalam berpikir dan bertindak.

Menurut penulis ada 3 unsur pencipta energi ceria, yaitu: Humanity, Technology, dan Art. Lihatlah bagaimana para penumpang memanfaatkan 3 unsur tersebut. Mereka yang terdiri dari berbagai bangsa saling menguatkan dan memberi motivasi satu sama lain (Humanity), mereka memanfaatkan teknologi komunikasi seoptimal mungkin dengan membuat video rekaman yang inspiratif yang akhirnya berhasil diunggah oleh Profesor Chris Turney dari Universitas NSW sang pimpinan ekspedisi ke internet pesawat China yang sedang terbang di atas lokasi kejadian (Technology), dan mereka bernyanyi sambil menari dengan gaya yang khusus (Art).

 

Harusnya banyak perusahaan akan mampu eksis di era globalisasi yang tidak anti krisis ekonomi ini, bila mereka mampu menggabungkan tiga unsur tersebut dalam mengkomunikasikan brand nya. Lihatlah juga bagaimana secara perlahan dan meyakinkan Korea Selatan lewat industri elektronik dan telekomunikasi nya mulai mengokohkan diri sebagai pemilik brand berkualitas dan menjadi top of mind. Ini tidak sekedar inovasi teknologi biasa, namun bagaimana pemerintah, pengusaha, dan masyarakatnya dengan cantik memainkan kombinasi dari 3 unsur tersebut Humanity, Technology, Art. Bukankah ada demam K-POP, wabah tarian Gangnam Style di balik laris manisnya penjualan produk-produk seperti Samsung, LG?

Kata brand yang berasal dari kata kuno ‘brandr’ yang artinya ‘menyala’, harusnya menjadi daya tarik tersendiri yang mampu menampilkan keunikan dan kekuatan sebuah perusahaan. Meskipun makin banyak perusahaan di Indonesia yang menyadari arti pentingnya brand, tidak semua menyadari 3 unsur ‘brand energy’ tersebut. Tantangannya bagaimana cara mengkomunikasikan sebuah brand hingga brand tersebut berbicara dan benar-benar menjadi energi positif dan ceria melalui pelaku organisasi terlebih dahulu sebelum mampu memuaskan para konsumennya. Brand bukan sekedar logo, simbol yang menarik dari sebuah produk atau perusahaan. Ia harusnya hidup dan ‘menyala’ melalui para pelaku bisnisnya termasuk semua karyawannya. Ya, kemenangan brand saat ini tidak bisa terlepas dari unsur budaya. Dan budaya itu sendiri harus menyenangkan. FUNtastic brand comes from FUN Culture !!! Play it !!